Sex Terbaik Di Tengah Samudra

Sex Terbaik Di Tengah Samudra

Cerita sex – Saya berharap berbagi cerita, kisahku ini merupakan kejadian yang benar-benar kualami sendiri. Untuk menjaga nama bagus keluarga, nama dan marga sengaja kusamarkan. Saya mau semoga bobot batinku akan berkurang sesudah saya menceritakannya terhadap

Saya merupakan seorang gadis dari K, ucap saja namaku Inge, saya buah hati pertama dari 6 bersaudara dan saya satu-satunya buah hati perempuan. Kehidupan ekonomi keluargaku dapat dibilang mencemaskan. Mujur saya dapat tamat SMA, ini sebab saya mendapatkan beasiswa.

Tetapi apalah tenaga saya cuma alumnus sekolah menengah, tapi demikian itu kucoba untuk melamar kerja di perusahaan yang ada di kota Manado. Alhasil nihil, tidak satupun perusahaan yang mendapatkan lamaranku. Saya mahfum, disaat krisis kini ini banyak PT yang jatuh pailit, kalaupun ada PT yang bertahan itu sebab mem-PHK beberapa karyawannya.

Agen Slot-Lalu saya berdaya upaya, mengapa saya tak ke Jakarta saja, kata orang di Ibukota banyak lowongan profesi, dan saya teringat tetanggaku Mona namanya, ia itu katanya berhasil hidup di Jakarta, ternyata kehidupan keluarganya meningkat drastis. Dulu kehidupan keluarga Mona tak jauh berbeda dengan kondisi keluargaku, ideal-pasan.

Pada suatu hari di bulan September, saya pamit terhadap keluargaku untuk merantau ke Jakarta. Meski berat papa dan mama merelakan kepergianku. Dengan bekal uang Rp 75.000 dan karcis kelas Ekonomi hasil hutang papaku di kantor, saya kesudahannya meninggalkan desa tercinta di Kawanua.

Sebab tiketku tak mencantumkan nomor seat, maklum kelas ekonomi, saya mau mendapatkan lapak untuk menggelar tikar ukuran badanku. Tetapi apes, angkutan yang menuju pelabuhan demikian itu telat, pada waktu itu jam telah menunjuk pukul 18:45. Waktuku cuma 15 menit. Terbukti KM.

Saya cuma dapat berdiri di depan sebuah kamar yang bertuliskan Crew, di sekitarku terdapat seorang Ibu tua bersama 2 orang buah hati laki-laki umur sekolah dasar. Mereka tiduran di emperan namun kelihatannya mereka cukup bersuka cita sebab bisa selonjoran. Saya berupaya mencari celah ruang untuk bisa jongkok.

Bandar Slot-Tidak sadar saya tertidur, saya sedikit kaget sewaktu petugas menanyakan karcis, saya ingat tiketku ada di dalam ransel punggungku. Tetapi apa lacur, tasku raib entah dimana, saya panik, saya berupaya mencari dan bertanya terhadap Ibu tua dan buah hati laki-lakinya, namun mereka cuma menggelengkan kepala.

“Pesat keluarkan tiketmu..” ujar seorang petugas sedikit membentak.
“Saya kehilangan ransel, karcis dan uangku ada di situ..” jawabku dengan sedih.
“Hah, dusta kau, itu alasan kuno, bilang aja kau tidak membeli karcis, Ayo ikut serta kami ke atas,” hardik petugas yang bertampang sangar.

Akibatnya saya dibawa ke dek atas dan dihadapkan terhadap atasan petugas karcis tadi.

“Oh.. ini orangnya, berani-beraninya kau naik kapal tanpa karcis,” kata sang atasan tadi.
“Tiketku sirna bersama pakaianku yang ada di ransel, aku tak dusta Pak, namun benar-benar sirna..”
“Bah itu sih alasan klasik Non, telah ratusan orang yang meminta dikasihani dengan membikin alasan itu.” sebutnya lagi.
“Bila Bapak tidak percaya ya telah, kini saya dihukum apa saja akan saya lakukan, yang penting saya hingga di Jakarta.”
“Baik, itu jawaban yang saya tunggu-tunggu..” ujar lelaki berseragam putih-putih itu.

Bila kutaksir mungkin lelaki hal yang demikian baru berusia 45 tahun, namun masih tegap dan atletis, cuma kumis dan rambutnya yang memperlihatkan ketuaannya sebab agak beruban.

“Tetapi ingat kau telah bermufakat, akan mengerjakan apa saja..” ujar lelaki itu, seraya menampilkan jarinya ke jidatku.
“Kini kau mandi, biar tak bau, tuh handuknya dan di sana kamar mandinya..” sambil menunjuk ke arah kiri.

Alangkah girang hatiku, diperlakukan seperti itu, saya tak menduga lelaki itu terbukti bagus juga. Alangkah segarnya nanti sesudah saya mandi.

“Terima beri Pak,” ujarku seraya memberanikan diri untuk menatap wajahnya, terbukti rupawan juga.
“Jangan panggil Pak, panggil saya Kapten..” tegasnya.Saya kini telah berada di kamar mandi.

Wah, alangkah wanginya tuh kamar mandi,” gumamku nyaris tidak terdengar. Kunyalakan showernya karenanya muncratlah air segar membasahi tubuhku yang mulus ini, kugosok-gosokan badanku dengan sabun, kuraih shampo untuk mencuci rambutku yang sempat lengket sebab peluh.

Sepuluh menit kemudian saya keluar dari kamar mandi, saya linglung untuk bersalin baju, saya sepatutnya bilang apa terhadap Sang Kapten. “Wah menawan juga kau,” tiba-tiba bunyi itu mengagetkan diriku. Dan yang lebih mengagetkan merupakan pelukan Sang Kapten dari arah belakang. Saya cuma terdiam, “Siapa namamu, Sayang?” bisiknya mesra. “Inge..” jawabku lirih. Saya tak berupaya berontak, sebab saya ingat akan janjiku tadi.

Sebab saya membisu tidak berreaksi, karenanya tangan Sang Kapten makin berani saja menjelajahi dadaku dan menciumi leher serta telingaku. Saya menggelinjang, entah geli atau terstimulasi, yang pasti hingga usiaku 19 tahun saya belum pernah menikmati sentuhan lelaki. Bukannya tak ada lelaki yang naksir padaku, ini sebab sikapku yang tak ingin berpacaran.

“Ooohh.. jangan Kapten.” cuma kata-kata itu yang keluar dari mulutku saat pria separo baya itu meraba barang yang sungguh-sungguh berharga bagi wanita, bulu-bulu lembut yang tumbuh di sekitar vaginaku dielusnya dengan lembut, sementara handuk yang menempel di tubuhku telah jatuh ke lantai. Dan saya malah tahu bahwa lelaki ini telah bertelanjang bulat.

Saya menikmati benda kenyal yang mengeras meraba pantatku, napas hangat dan wangi yang memburu terus menjelajahi punggungku, tangannya yang tadi mengelus vaginaku kini meremas-remas kedua payudaraku yang ranum, ini membikin dadaku membusung dan mengeras. Saya tidak percaya, tangan lelaki ini seolah mengandung magnet, sebab sanggup membangkitkan gairah yang tidak pernah kurasakan seumur hidupku.

“Ooohh.. aaahh..” cuma desahan panjang yang bisa kuekspresikan bahwa diriku berada dalam birahi yang betul-betul seru.
“Inge kamu betul-betul lugu, pegang dong batangku,” kata Kapten Jonny, seraya meraih tanganku dan melekatkannya ke batang zakarnya yang keras namun kenyal.
“Jangan membisu saja, remaslah, biar kita sama-sama sedap..” ujarnya lagi.

kuraih batang genitalianya kuremas dan kukocok-kocok, hingga kumainkan biji pelirnya yang licin.

Sang Kapten mendesah-desah, “Ooohh.. aaachh.. sedap sekali Sayang, teruskan.. oh teruskan..” sambil matanya terpejam-pejam. Saya jongkok, tanpa ragu kujilat dan kukulum torpedo Sang kapten, hingga terbenam ke tenggorokanku.

Saya benar-benar menikmatinya seperti merasakan es Jolly kesukaanku di waktu kecil dahulu. Saya tidak peduli erangannya, kusedot, kusedot dan kusedot terus, hingga kesudahannya zakar Sang Kapten yang panjangnya hampir 12 centi itu memuncratkan cairan air mani hangat ke mulutku yang imut. “Aaahh.. saya telah tidak kuat Inge,” gumamnya.

“Kau betul-betul hebat Inge,” puji Kapten Jonny sambil mengecup bibirku.
“Inge jangan kamu anggap saya telah keok, tunggu sejenak..”

Ia bergegas menuju lemari kecil, segera mengambil sesuatu dari botol kecil dan menelannya segera membuka kulkas dan mengambil botol minuman sejenis minuman kekuatan.

“Sini Sayang..” ujar sang kapten memanggilku mesra.
“Rehat dahulu kita sejenak, ambillah minuman di kulkas untukmu,” lanjut Kapten Jonny.

“Kamu berbaringlah di di situ,” pinta Kapten Jonny sambil menunjuk daerah tidurnya yang ukurannnya tak demikian itu besar. Kurebahkan tubuhku di atas kasur yang empuk dan membal. Kulihat jam dinding telah menunjuk pukul 12 malam. Saya heran mataku tidak merasa ngantuk, meski lazimnya saya telah tidur sebelum pukul 22:00.

Saya sengaja tak mengaplikasikan selimut untuk menutupi tubuhku, kubiarkan demikian itu saja tubuhku yang polos, barangkali ini akan membangkitkan gairah birahi Sang Kapten yang tadi telah down. Saya mau semoga Sang Kapten akan terstimulasi memandang dadaku yang sengaja kuremas-remas sendiri.

Sejurus kemudian lidahnya dijulurkan dan menyapu permukaan bibir vaginaku. Pahaku sengaja kulebarkan, hal ini membikin Sang Kapten bertambah buas dan liar, diseruputnya klitorisku. “Ooohh.. aaahh.. teruskan Kapten, lanjutkan Kapten.. Ooohh.. sedap sekali Kapten..” Tangannya tak tinggal membisu, diraihnya kedua payudaraku, diremasnya dan tidak lupa memelintir putingku dengan mesra.

“Ooohh.. saya telah tidak bendung Kapten..” desisku.
“Bendung Sayang.. bendung sejenak.. biarkan saya merasakan vaginamu yang wangi ini… saya tidak pernah menikmati wanginya Miss V dari wanita lain..”
“Sruuppp.. sruuuppp.. sruuupp..” Terus saja mulut Kapten Jonny dengan rajinnya menjelajah komponen dalam vaginaku yang telah empot-empotan ini dampak stimulan yang sungguh-sungguh tinggi.

“Telah Kapten.. lekas masukkan batang zakarmu, saya telah tak bendung..”
“Bagus, rasakanlah Sayang.. alangkah nikmatnya rudalku ini..”
“Tetapi perlahan-perlahan Kapten, saya benar-benar masih perawan..”
“Oke, saya mengerjakannya dengan hati-hati..” komitmen Kapten Jonny.
“Buka lebar pahamu, Inge..” anjuran Kapten Jonny.

Dan…

“Blleeesss…”
“Ooohh.. aaahh..” desisku, meski zakar itu baru masuk tiga perempatnya.
“Bles.. blesss…”
“Ooohhh…” erangku panjang, saya tahu batang sepanjang 12 centi itu telah merusak selaput daraku.

Ditariknya lagi rudalnya, segera dimasukannya lagi seirama dengan goyangan KM.Ciremai oleh ombak laut.

“Bless.. blesss.. bless..”
“Ooohh.. ooohh.. ooohh.. aaahh.. aaahh..”
“Saya ingin keluar Kapten,” ujarku memberi tahu Kapten Jonny.
“Bendung Sayang.. sejenak.. saya juga berharap keluar, kini kita hitung hingga tiga. Satu.. dua.. tiga..”

“Crottt… crottt… crot…” air mani Kapten Jonny membasahi gua gelap vaginaku. Alangkah hangat dan nikmatnya air mani mu Jonny. Aku ini memancing cairanku ikut serta membanjiri kemaluanku hingga meluber ke permukaan bersama dengan air mani kapten.

Kami berdua terkulai lemas, namun Kapten Jonny sempat menyentuh bibir kemaluanku dan jarinya seolah mencungkil sesuatu dari vaginaku, terbukti ia menampilkan cairan merah kepadaku, dan terbukti merupakan darah perawanku. Dijilatnya darah sambil berkata, “Terima kasih Inge, kau betul-betul perawan..” Saya cuma menangis, menangisi kenikmatan yang sama sekali tidak kusesalkan.

Lantas senggama ini berlangsung kembali hingga sang surya timbul. Alhasil saya tidur hingga siang, makan, tidur dan malamnya kami mengerjakannya lagi berulang-ulang seolah tiada bosan dan kapten konsisten mengeluarkan air mani nya didalam vaginaku. Akibatnya Pelabuhan Tanjung Priok telah berada di pelupuk mataku. Sebelum turun dari kapal saya dibelikan pakaian baru, dan dibekali uang yang cukup.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *